"Menanam jabon seperti menanam emas"

Menanam jabon seperti menanam emas”

Meningkatnya populasi penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan papan, sandang dan pangan. Kebutuhan papan dan sandang banyak dipenuhi dari bahan baku berupa kayu, sehingga industri kehutanan  yang berbasis kayu semakin berkembang pesat. Namun pada saat ini pasokan bahan baku dari hutan alam sudah semakin menurun, karena overexploitasi maupun bencana alam, sehingga laju kerusakan hutan alam di Indonesia telah mencapai angka 1,08 juta ha/tahun (Departemen Kehutanan, 2007).

Semakin menurunnya pasokan kayu dari hutan alam tersebut memicu berkembangnya keinginan nasional untuk: 1) mengembangkan dan mempromosikan industri-industri pengolahan kayu khususnya pulp dan kertas, dan 2) pengelolaan jenis pohon yang cepat tumbuh dan tegakan –tegakan monokultur,serta harapan yang besar terhadap produktivitas yang tinggi. Hal ini menyebabkan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) berkembang dengan cepat di Indonesia. Menurut Ahmad (2000),saat ini pemerintah telah memberikan izin pembangunan HTI seluas +/- 7,5 juta ha, akan tetapi realisasi penanaman sampai dengan bulan September 1999 baru mencapai +/- 20.614.208,77 m3.

Walaupun berkembang pesat, namun bahan baku industri juga masih kekurangan bahan bakunya. Pada tahun 2007 pemerintah mengimpor bahan baku kayu sebanyak 104.431,31 m3. Untuk mengatasi kekurangan bahan baku tersebut diperlukan program pembudidayaan kayu secara komersial untuk menghasilkan kayu bermutu dengan nilai yang lebih tinggi.

Jabon (Antocephalus cadamba (Roxb.) Bosser.) merupakan salah satu jenis pohon yang dapat dijadikan sebagai bahan baku industri, baik industri kayu pertukangan, pulp dan kertas maupun veneer. Dibandingkan dengan jenis-jenis kayu yang lain, kayu jabon merupakan jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat, berbatang silindris dan lurus, kayunya berwarna putih kekuningan tanpa terlihat serat yang sangat baik dipergunakan untuk pembuatan kayu lapis maupun kayu gergajian.

Mengapa Jabon?

Jabon atau dalam bahasa latinnya disebut Anthocephalus Cadamba merupakan tanaman kayu yang sebenarnya tumbuh liar di hutan. Tumbuhan ini sebenarnya di tahun 1970-an sangat terkenal namun karena perkembangan ekploitasi hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi ladang atau kebun menjadikan tanaman ini sulit ditemukan.

Tanaman jabon merupakan tanaman yang dapat menjadi konservasi bagi tanah dan hutan karena sifatnya yang memiliki akar serabut dan banyak sekali menyerap air. Sebagai tanaman hutan, jabon jarang sekali dibudidayakan karena karakteristik tanamannya membuat budidaya jabon menjadi unik dan sangat tergantung pada alam sehingga tidak dapat direkayasa. Tanaman jabon mulai dilirik oleh pelaku ekonomi semenjak bahan baku industri  perkayuan memiliki keterbatasan sumber daya sehingga memerlukan alternatif bahan baku. Ketersediaan bahan baku industri perkayuan seperti jati, sengon, mahoni, dan lain-lain sangat terbatas karena memang umur tebang pohon yang relatif lama (lebih dari 8 tahun).

Secara ekonomis, jabon merupakan bahan baku untuk pembuatan industri multipleks, kertas, furniture, kerajinan tangan, pensil, korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp, dan konstruksi darurat yang ringan, dan lain-lain.

Morfologi Jabon

Tanaman jabon memiliki karakteristik yang unik sebagai berikut :

  1. Jabon mudah tumbuh tanpa perlakuan khusus dan ekstrim.
  2. Batang jabon memiliki karakteristik yang unik yaitu silindris dan tegak lurus.
  3. Cabang jabon dapat rontok dengan sendirinya (self prunning) sesuai dengan umur dan iklim sehingga dapat mengoptimalkan tumbuh kembang batangnya secara mandiri.
  4. Warna kayu jabon putih kekuning-kuningan sehingga memenuhi syarat karakteristik bahan baku furniture.
  5. Serat kayu jabon padat halus sehingga sangat sesuai untuk bahan baku plywood atau furniture.
  6. Jabon memiliki ekologi tumbuh optimal pada ketinggian 50 sampai 500 mdpl sehingga memiliki cakupan kesesuaian tanam yang lebih luas dibanding tanaman kayu yang lain.
  7. Tanaman jabon dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,5 sampai 7,5.
  8. Tanaman jabon dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1.500 sampai dengan 3.000 mm/th.
  9. Suhu lingkungan tempat tanaman jabon tumbuh berkisar antara 14 – 40 C
  10. Usia tebang jabon relatif singkat yaitu berkisar antara 5 sampai 8 tahun.

 Daun dan Tajuk

Bentuk tajuk seperti payung dengan sistem percabangan melingkar. Daunnya tidak lebat dengan panjang 13-32 cm.

Batang

Batang lurus silindris dan tidak berbanir. Ciri dan karakteristik batang jabon adalah :

Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus, berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah. Selalu hijau. Di alam bebas pohon dapat mencapai tinggi 45 m dengan diameter lebih dari  100 cm,sedangan batas bebas cabangnya mencapai hingga 25 m. Pada umur 3 tahun tingginya dapat mencapai 17 m dengan diameter 30 cm.

Buah dan Bunga

Pohon jabon berbuah setiap tahun pada bulan Juni-Agustus. Buahnya merupakan buah majemuk berbentuk bulat dan lunak, mengandung biji yang sangat kecil. Jumlah biji kering udara 18-26 mjuta butir/kg. Buah yg berukuran sedang dapat menghasilkan sekitar 8.300 pohon. Biji yang telah dikeringkan dan disimpan pada tempat yang tertutup rapat dalam ruangan yang sejuk dapat tahan selama satu tahun. Bunga jingga berukuran keci, berkelopak rapat, berbentuk bulat.

Akar

Tanaman jabon memiliki dua jenis akar, yaitu akar tunggang dan akar lateral. Akar tunggang merupakan akar yang tumbuh kebawah dan biasanya berukuran besar. Fungsi utamanya menegakkan tanaman agar tidak mudah roboh. Sedangkan akar lateral merupakan akar yang tumbuh kesamping untuk mencari air dan unsur hara. Pada akar tunggang dan lateral, biasanya juga tumbuh akar-akar serabut atau sering disebut dengan rambut akaryang membantu menyerap air dan unsur hara.

Tentang Kayu

Tanaman kayu keras yang dapat tumbuh sangat cepat. Lingkar batangnya pada usia 6 tahun bisa mencapai diatas 40-50 cm. Kayunya berwarna putih krem sampai sawo kemerah-merahan, mudah diolah, lunak dan ringan.

Kelas Kayu

Kelas keras III, kelas awet V

Hasil Kayu

Dapat dibuat sebagai bahan bangunan non konstruksi, meubel, veneer, mainan anak-anak, korek api, peti pembungkus, furniture, bahan plywood (kayu lapis).

Botani Jabon

  • Penyebaran dan Habitat

ü  Distribusi alami dimulai dari Nepal dan India,menuju Thailand dan Indochina serta bagian timur kepulauan Malaya hingga Papua Nugini. Tanaman ini telah diintroduksi di Afrika serta Amerika Tengah dan mampu beradaptasi dengan baik.

ü  Di Indonesia, tanaman ini terdapat di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sumbawa, Sulawesi dan Irian Jaya

ü  Merupakan tipikal tanaman pioneer dan umum terdapat di hutan sekunder. Jenis yang memerlukan cahaya dan tidak toleran terhadap cuaca dingin.

ü  Pada distribusi alaminya, tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian 50-500 mdpl dengan rata-rata curah hujan lebih dari 1.500 mm/tahun. Pada jenis tanah lempung, podsolik coklat an aluvial lembab yang umumnya terdapat di sepanjang sungai yg ber-aerasi baik.

ü  Namun demikian jabon dapat pula tumbuh pada daerah kering dengan curah hujan sedikitnya 200 mm/tahun serta toleran pada kondisi air tergenang yang periodik.

  • Sifat Fisik kayu teras berwarna putih semu-semu kuning muda, lambat laun menjadi kuning semu-semu gading, kayu gubal tidak dapat dibedakan dari kayu teras. Tekstur kayu agak halus sampai agak kasar. Arah serat lurus, kadang-kadang agak berpadu. Permukaan kayu licin atau agak licin mengkilap atau agak mengkilap.
  • Tempat Tumbuh

Jabon kebanyakan tumbuh di tanah alluvial lembab di pinggir sungai dan di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang kadang-kadang di genangi air. Selain itu dapat juga tumbuh dengan baik pada tanah liat, tanah lempung, podsolik coklat, tanah tuf halus atau tanah lempung berbatu yang tidak sarang.

Jenis ini memerlukan iklim basah hingga kemarau kering di dalam hutan gugur daun dengan tipe curah hujan A dan D, mulai dari dataran endah sampai ketinggian sekitar 900 m dari permukaan laut.

  • Pertumbuhan

Pertumbuhan sangat cepat dibandingkan dengan kayu keras lainnya termasuk bila dibandingkan dengan sengon (albasia). Jabon tergolong tumbuhan pioneer sebagaimana sengon. Ia dapat tumbuh di tanah liat, tanah lempung potsolik coklat, atau tanah berbatu. Sejauh ini jabon bebas serangan hama dan penyakit,termasuk karat tumor yang kini banyak menyerang sengon.

  • Hama dan Penyakit

Tanaman muda biasa dimakan binatang liar seperti rusa dan banteng. Jamur Gloesporiumanthocephali dapat mengakibatkan rontoknya daun sebagian atau seluruhnya dan mati pucuk. Sering daun dimakan oleh aneka serangga sedangkan bibit dimakan oleh binatang buruan. Pohon dengan daun yang berlubang-lubang serius sangat lazim tetapi biasanya akan pulih dengan baik. Hama yang dilaporkan di Filipina antara lain ulat pembuat terowong daun Pyralis sp, penggerek Pterodepleryx sp. Dan ulat bertanduk.

  • Penanaman dan Perawatan

Jabon adalah tanaman yang mudah tumbuh dan berkembang tidak memerlukan banyak perlakuan khusus dalam budidayanya.

  • Pemasaran

Karena jenis kayunya yang berwarna putih agak kekuningan dan tanpa terlihat seratnya, maka kayu jabon sangat dibutuhkan oleh industri kayu lapis (plywood), industri meubel, pulp, produsen peti buah, mainan anak-anak, korek api , alas sepatu, papan, tripleks, dan lain-lain. Hal inilah yang menyebabkan pemasaran kayu jabon sama sekali tidak mengalami kesulitan, bahkan industri kayu lapis siap untuk membeli setiap saat dalam jumlah yang tidak terbatas.

  • Data Pertumbuhan dan Panen

Mencapai usia optimal panen pada usia 5-8 tahun. Pertumbuhan diameter pohon antara 5-10 cm/th.

Nilai Ekonomi Jabon

Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar. Perkiraan dalam 4-5 tahun mendatang, diperoleh dari penjualan 625 pohon berumur 4-5 tahun sebanyak 800-1.000 m3/ha. Prediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp1,2 juta/m3. Dengan harga jual Rp1,2 juta/m3 dan produksi 800 m3, maka omset dari penanaman jabon mencapai Rp 960 juta/ha. Saat ini  harga per m3 jabon berumur 4 tahun mencapai Rp 716.000; umur 5 tahun Rp 837.000. Andai harga jabon tak terkerek naik alias Rp 716.000/m3, maka omset dari budidaya jabon hanya Rp 572.800.000.

Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tanaman jabon setelah dipanen pada usia 8-10 tahun (asumsi harga terendah, dan batang terkecil) pada setiap batang kayu jabon diperoleh :

ü  Tinggi batang yang bisa terjual rata-rata 12m.

ü  Diameter batang rata-rata 30cm.

ü  Maka dari tiap batang pohon jabon menghasilkan kayu yang bisa dijual  sebanyak 1,5 m3, sedangkan harga per kubik saat ini  Rp 1.000.000,-

ü  Sehingga harga terndah 1 batang pohon jabon usia 8-10 tahun minimal seharga Rp 1.500.000,-

Sebagai acuan,harga kayu jabon perkubik pada tahun 2009 adalah sebagai berikut :

1.       Diameter 30-39 cm, Rp 1.000.000,-

2.       Diameter 40-49 cm, Rp 1.100.000,-

3.       Diameter > 50 cm, Rp 1.200.000,-

 Harga inii diprediksi akan mengalami kenaikan seiring dengan tingkat kebutuhan dan permintaan yang semakin bertambah tiap tahunnya,sedangkan persediaan kayu jabon semakin lama semakin terbatas. Dalam luasan 1 Ha lahan, analisa optimal kami adalah penanaman +/- 625 batang bibit jabon dengan jarak tanam 4 m x 4 m.

Peluang Investasi Jabon 

Menanam jabon bagaikan membangun mimpi, sebab kebutuhan kayu  akan terus meningkat karena saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, akibatnya banyak indutri tutup akibat kekurangan pasokan kay, jadi pada masa mendatang, harga kayu jabon akan semakin meningkat teru. Investasi tanaman keras/kayu yang menguntungkan dan menjanjikan . Berdasarkan karakteristik jabon dan keunggulannya secara ekonomis maka kita perlu melirik jabon menjadi salah satu alternatif untuk usaha karena memiliki peluang yang masih terbuka lebar dan sangat berpotensi return (tingkat pengembalian modal) yang besar bagi kegiatan investasi.

Lahan tidur atau lahan kosong yang tidak digarap, pada dasarnya hanya ditumbuhi oleh semak belukar dan ilalang yang tidak bernilai ekonomis. Oleh karena itu, pada program infestasi ini dilakukan penggarapan pada lahan tidur sebagai investasi pada tanaman jabon yang sangat bernilai ekonomis di masa sekarang maupun di masa yang akan datang mengingat semakin tingginya permintaan kayu untuk  keperluan industri perkayuan dengan sistem Agroforestry (tumpang sari).

Selain untuk memanfaatkan dan meningkatkan produktivitas lahan kosong yang tidak tergarap optimal, program investasi ini bertujuan untuk :

a) Meningkatkan kesadaran menanam pohon kepada lingkungan sekitar.

b) Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang menanam sejak dini.

c)  Membuka lapangan kerja baru bagi diri sendiri khususnya dan bagi lingkungan sekitar pada umumnya dengan menawarkan sistem bercocok tanam yang lebih bernilai ekonomis dibandingkan dengan tanaman palawija.

d)  Memanfaatkan dengan optimal lahan tidur dan lahan yang belum dimanfaatkan dengan sistem kerjasama (bagi hasil) dengan pemilik lahan.

sumber: jabonmandiri.blogspot.com
sumber gambar: definisimu.blogspot.com

Incoming search terms:

  • budidaya jabon merah
  • keuntungan jabon
  • mengapa jenis tumbuhan usia singkat mampu berkembang biak dalam jumlah yang lebih banyak
  • mengapa usia tumbuhan yg singkat bisa berkembang biak dg jumlah lebh banyak?